Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda DIY, Anny Pudji Astuti menegaskan
bahwa broadcast melalui Blackberry Messenger (BBM) tentang keberadaan
organisasi Raden Kian Santang (RKS) di DIY tidak benar.
Penegasan itu disampaikan Anny kepada kabarkota.com, menyusul adanya
pertanyaan yang sama dari sembilan orang melalui SMS Center Polda DIY di
0811 292 9000, baru-baru ini.
“Kami jajaran Polda DIY menyatakan, DIY dalam situasi kondusif”, kata Anny melalui sambungan telepon, Rabu (15/10).
Meski begitu Anny membenarkan, memang pernah ada aksi tawuran pelajar di
Sleman, dan pembunuhan di wilayah hukum kota Yogyakarta, namun semua
tersangkanya sudah tertangkap.
“Kami mengimbau agar masyarakat tidak mudah terprovokasi dengan isu tersebut,” pintanya.
Sebelumnya, pada 12 Oktober lalu, kabarkota.com menerima BBM berantai
(Broadcast) yang intinya menyampaikan bahwa masyarakat diminta waspada
saat hendak keluar malam, karena situasi di Yogyakarta mulai memanas.
Dalam Broadcast itu juga menyebutkan tentang keberadaan organisasi RKS,
yang merupakan perkumpulan pemuda dari luar kota yang mencoba merusak /
menghancurkan generasi anak muda kalangan SMP dan SMA, dengan merekrut
remaja-remaja pencari jati diri.
Organisasi ini, kata Broadcast tersebut, dipimpin oleh salah seorang
pria dewasa yg berpengaruh dan mempunyai ilmu hitam atau kekebalan
tubuh, dan meraja lela di wilayah Sleman Barat dan Utara. Di antaranya,
dengan adanya kasus penganiayaan dengan senjata tajam di Jalan Godean
pada malam hari, serta pembunuhan di depan Taman Pintar Yogyakarta.
Dalam pesan berantai yang meresahkan itu juga mencatut institusi
kepolisian agar masyarakat lebih berhati-hati, jika hendak keluar malam
hari.
Wednesday, October 22, 2014
AKU CINTA YOGYAKARTA : Di Bantul, Jalur Jogja-Wates Paling Bahaya
Jalan Joga-Wates kini diklaim sebagai jalur paling rawan kecelakaan
lalu lintas yang menyebabkan kematian di Bantul. Sebab kapasitas jalan
sudah tidak memadai menjadi jalur lalu lintas kendaraan besar di wilayah
selatan.
Kepolisian Sektor (Polsek) Sedayu Bantul mencatat, sepanjang tiga
bulan terakhir sejak Agustus-Oktober sudah enam nyawa melayang di jalur
berbahaya ini.
Periode tiga bulan terakhir dihitung sejak terjadi limpahan kendaraan besar dari jalur pantai utara (Pantura) menyusul rusaknya jembatan Comal di Pemalang Jawa Tengah.
Data pengguna jalan yang tewas tiga bulan terakhir lebih banyak dibanding kejadian sepanjang 2013 yang hanya lima kasus kecelakaan berujung kematian.
“Itu baru data kecelakaan yang menyebabkan kematian, tapi kalau kecelakaan biasa yang tidak sampai meninggal bisa hampir tiap hari. Faktanya memang begitu,” terang Humas Polsek Sedayu Ipda Agus Supraja, baru-baru ini.
“Kendaraan sepeda motor sekarang di jalan harus bersaing dengan kendaraan besar,” imbuhnya.
Periode tiga bulan terakhir dihitung sejak terjadi limpahan kendaraan besar dari jalur pantai utara (Pantura) menyusul rusaknya jembatan Comal di Pemalang Jawa Tengah.
Data pengguna jalan yang tewas tiga bulan terakhir lebih banyak dibanding kejadian sepanjang 2013 yang hanya lima kasus kecelakaan berujung kematian.
“Itu baru data kecelakaan yang menyebabkan kematian, tapi kalau kecelakaan biasa yang tidak sampai meninggal bisa hampir tiap hari. Faktanya memang begitu,” terang Humas Polsek Sedayu Ipda Agus Supraja, baru-baru ini.
Peningkatan kasus kecelakaan berujung kematian itu hampir semuanya
terjadi dengan kronologi serupa. Yaitu, sempitnya jalan sehingga
menyebabkan kendaraan satu dengan yang lainnya bersenggolan, jatuh lalu
ditabrak kendaraan lainnya yang melintas. Kebanyakan kendaraan yang
menabrak korban adalah kendaraan pengangkut barang seperti truk dan
mobil box.
Agus Supraja tidak memungkiri, penyebab meningkatnya kecelakaan
tersebut akibat semakin melimpahnya kendaraan bertonase tinggi yang
melintasi wilayah ini.“Kendaraan sepeda motor sekarang di jalan harus bersaing dengan kendaraan besar,” imbuhnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
